Kisah Mereka yang Tidak Dilalaikan dengan Urusan Dunia


Muhammad bin Sirin[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Akan tetapi tahukah Anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah.

Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah Al-Yasykuri, beliau berkata, “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah[2].”

Subhanallah, betapa mulianya sifat imam besar ini. Betapa tekunnya beliau dalam beribadah dan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga sewaktu berada di pasar dan sedang berjual-belipun hal tersebut tampak pada diri beliau.

Bukankah wajar kalau orang yang sedang beribadah di masjid kemudian orang yang melihatnya mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tapi seorang yang sedang berjual-beli di pasar dengan segala kesibukannya, akan tetapi sikap dan tingkah lakunya bisa mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bukankah ini menunjukkan bahwa orang-orang yang shalih selalu menyibukkan diri dengan berzikir dan beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan?

Benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, “Wali-wali (kekasih) Allah adalah orang-orang yang jika mereka dipandang maka akan mengingatkan kepada Allah[3].” Baca lebih lanjut

Iklan

Memetik Hikmah dari Petani Jagung


James Bender dalam bukunya, “How to Talk Well” [New York; McGray-Hill Book Company,Inc., 1994], menyebutkan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan.

Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara dan menggali rahasia kesuksesan petani tersebut.

Wartawan itu menemukan bahwa petani itu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya.

“Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?” tanya wartawan, dengan penuh rasa heran dan takjub.

“Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula,” jawab petani.

Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya, jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama. Baca lebih lanjut

PROMO DAHSYAT ! PAKET TETRALOGI SEJARAH


> SEJARAH NABI MUHAMMAD ( Rp 54.000,- )
> MEREKA ADALAH PARA SHAHABAT ( Rp 85.000,- )
>MEREKA ADALAH PARA SHAHABIYAT ( 80.000,- )
>MEREKA ADALAH PARA TABI’IN ( Rp 82.500 )

DAPATKAN SEMUANYA HANYA DENGAN HARGA : Rp 225.000,-

(BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM)

PEMESANAN VIA SMS

FORMAT SMS : PROMO-TETRALOGI#JUMLAH#NAMA#ALAMAT JELAS

CONTOH : PROMO-TETRALOGI#2#SUWARDI#JL. CITROSANCAKAN NO. 26 GEMOLONG, SRAGEN 57274

KIRIM SMS KE : 0821-3774-2348

 

Ini Dalilnya (8): Pembagian Bid’ah yang Tepat


Setelah memahami kekeliruan mereka yang membagi bid’ah persis dengan pembagian hukum syar’i (wajib, mandub, mubah, makruh dan haram). Ada baiknya kalau di sini kami jelaskan klasifikasi bid’ah yang benar, yang tidak bertentangan dengan sabda Nabi: “wa kullu bid’atin dholalah”. Yaitu dengan meninjau dari segi hubungannya dengan syari’at, atau dari kadar bahayanya.

Ditinjau dari hubungannya dengan syari’at, bid’ah terbagi menjadi dua:

  1. Bid’ah Haqiqiyyah.
  2. Bid’ah Idhafiyyah.

Dalam kitabnya yang sangat monumental, Imam Asy Syathiby mendefinisikan bid’ah haqiqiyyah sebagai berikut:

اَلْبِدْعَةُ الحَقِيْقِيَّةُ: هِيَ الَّتِي لَمْ يَدُلَّ عَلَيْهَا دَلِيْلٌ شَرْعِيٌّ لاَ مِنْ كِتَابٍ وَلاَ سُنَّةٍ وَلاَ إِجْمَاعٍ وَلاَ اسْتِدْلاَلٍ مُعْتَبَرٍ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لاَ فِي الْجُمْلَةِ وَلاَ فِي التَّفْصِيْلِ, وَلذَلِكَ سُمِّيَتْ بِدْعَةً لأَِنَّهَا شَيْءٌ مُخْتَرَعٌ عَلىَ غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ (مختصر الاعتصام, ص 71).

Bid’ah haqiqiyyah ialah bid’ah yang tidak ada dalil syar’inya sama sekali. Baik dari Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, maupun istidlal yang mu’tabar[1]) menurut para ulama. Ia sama sekali tak memiliki dalil baik secara umum maupun terperinci, karenanya ia dinamakan bid’ah berangkat dari hakekatnya yang memang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya. Baca lebih lanjut

BEDA SALAFI dengan TAKFIRI


Mengingat kemunculan Khawarij itu bersifat terus menerus hingga kemunculan Dajjal dan hakikat senyatanya dari diri mereka di berbagai masa dan daerah tidaklah diketahui oleh sebagian kaum muslimin sehingga sebagian orang Islam beranggapan bahwa Khawarij itu berada di atas kebenaran. Sebagaimana sebagian orang yang hidup di masa salaf tidak mengetahui hakikat mereka yang senyatanya. Karena itu suatu hal yang vital adalah upaya membedakan antara mereka para Khawarij dengan para pengikut Salaf Shalih. Terlebih lagi opini yang dibuat media massa yang memiliki berbagai pandangan, tendensi dan pengetahuan sangat mempengaruhi banyak orang. Kita saksikan bahwa media tidak bisa membedakan antara salafi dengan takfiri [baca: khariji] yang ini tentu saja sangat merusak citra dakwah salafiyyah. Akibatnya takfiri khariji yang menyimpang dari dakwah salafiyyah dinilai sebagai salafi. Pemikiran dan tindakan takfiri khariji pun dinilai sebagai bagian dari dakwah salafiyyah. Kondisi ini menuntut kita untuk menegaskan perbedaan antara dakwah salafiyyah dengan dakwah yang diusung oleh Khawarij yang main vonis kafir seenaknya.

Pertama, ulama kontemporer yang dijadikan sebagai rujukan. Terdapat perbedaan yang nyata antara salafi dengan takfiri dalam masalah ini. Rujukan salafi dalam memahami al Qur’an dan sunnah Nabi di samping berbagai riwayat dari ulama salaf dan pemahaman ulama terdahulu adalah penjelasan para ulama besar di zaman ini semisal Ibnu Baz, Al Albani, Ibnu Utsaimin, Lajnah Daimah KSA, Syaikh Abdul Muhsin al Abbad dan para ulama lain yang meniti jejak para ulama tersebut. Baca lebih lanjut

DOWNLOAD AUDIO KAJIAN ILMIAH (USTADZ MAHFUL SAFARUDIN, Lc)


Bismillah… Degan mengharap wajah Allah semata, kami ingin berbagi audio rekaman kajian ilmiah yang disampaikan oleh Al Ustadz Abu Umair Mahful Safarudin, Lc ( Pengajar di Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran). Silahkan download pd link di bawah!

Kajian Ilmiah “Mutiara Fatihah” oleh Ustadz Abu Umair Mahful Safarudin, Lc

Kajian Ilmiah “Sepak Bola dan Game” oleh Ustadz Abu Umair Mahful Safarudin, Lc

Kajian Ilmiah “Parpol dalam Islam” oleh Ustadz Abu Umair Mahful Safarudin, Lc

http://www.mondokan.wordpress.com