Seorang Pemuda dan Bidadari Bermata Jeli


Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) ‘Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi Surga.’ (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”

Laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi kepadamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan harapan aku memperoleh Surga.”

Aku menjawab, “Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar dan tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.” Baca lebih lanjut

Iklan

KISAH ZUBAIR bin AWWAM


Ketika Zubair bin Awwam sedang berada di rumahnya di Makkah, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan yang berbunyi, “Muhammad bin ‘Abdullah telah terbunuh!” Mendengar itu, Zubair pun keluar dalam keadaan telanjang dan tidak mengenakan sesuatu pun yang menutupi tubuhnya. Dia keluar sambil memegang pedangnya guna mencari orang yang telah membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dia ingin membunuh orang tersebut.

Namun betapa bahagia hatinya tatkala dia menemukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih dalam keadaan hidup dan tidak terluka sedikitpun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasa heran dengan kondisi Zubair yang telanjang itu, maka beliau bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Zubair?” Baca lebih lanjut

Kisah Mereka yang Tidak Dilalaikan dengan Urusan Dunia


Muhammad bin Sirin[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Akan tetapi tahukah Anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah.

Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah Al-Yasykuri, beliau berkata, “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah[2].”

Subhanallah, betapa mulianya sifat imam besar ini. Betapa tekunnya beliau dalam beribadah dan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga sewaktu berada di pasar dan sedang berjual-belipun hal tersebut tampak pada diri beliau.

Bukankah wajar kalau orang yang sedang beribadah di masjid kemudian orang yang melihatnya mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tapi seorang yang sedang berjual-beli di pasar dengan segala kesibukannya, akan tetapi sikap dan tingkah lakunya bisa mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bukankah ini menunjukkan bahwa orang-orang yang shalih selalu menyibukkan diri dengan berzikir dan beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan?

Benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, “Wali-wali (kekasih) Allah adalah orang-orang yang jika mereka dipandang maka akan mengingatkan kepada Allah[3].” Baca lebih lanjut

Kesabaran Abdullah bin Hudzafah


Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais radhiyallahu ‘anhu ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka kan melihat kedudukan yang mulia dan laki-laki yang agung.

Umar bin Khattab radhiayallahu ‘anhu memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata: “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata: “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab: “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata: “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab: “Silahkan saja!” Maka Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyalibnya dan berseru kepada pasukan pemanah: “Panahlah ia, arahkan sasarannya pada tempat-tempat yang terdekat dengan badannya.” Sementara dia tetap berpaling, enggan, dan tidak takut. Maka raja Romawi pun menurunkannya dari tiang salib. Dia perintahkan kepada pengawalnya untuk menyiapkan belanga (kuali) yang diisi dengan air dan direbus hingga mendidih. Kemudian ia perintahkan untuk memanggil tawanan-tawanan dari kaum muslimin. Kemudian ia lemparkan salah seorang dari mereka ke dalam belanga tadi hingga tinggal tulang belulangnya. Namun Abdullah bin Hudzafah tetap berpaling dan enggan untuk masuk agama Nashrani. Kemudian Raja memerintahkan pengawalnya untuk melemparkan Abdullah bin Hudzafah ke dalam belanga jika ia tidak mau memeluk agama Nashrani. Baca lebih lanjut

Menangis ketika Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat


Jennifer, seorang remaja putri berasal dari Kanada, sudah lebih dari tiga pekan ingin mengenal ajaran Islam. Ia sedang mencari hakikat Islam yang sesungguhnya. Ketika itu ia berusia 18 tahun. Namun ia tidak seperti umumnya gadis keturunan Kanada.

Saya (Penulis) ingin mengetahui sejauh mana pengenalan wanita ini terhadap ajaran Islam.

Saya bercerita kepada wanita itu seputar al-Quran al-Karim. Al-Quran itu adalah sebuah kitab mukjizat yang seluruh jagat raya ini membenarkan bahwa Islam adalah agama yang benar.

Al-Quran tidak pernah mengalami perubahan semenjak lebih 1400 tahun yang lalu. Tulisan al-Quran, baik di Mesir, di Amerika, di Cina dan di Jepang adalah sama.

Saya mengajaknya berbicara seputar pembahasan kebenaran Islam dari sisi ilmiah yang berkaitan dengan dunia. Setelah melalui beberapa perbandingan di luar kebiasaan dalam hal teknologi dan beberapa cabang ilmu kontemporer serta mengajukan beberapa perantara riset ilmiah yang bersangkutan. Kemudian menjelaskan bahwa kebenaran semua teknologi itu sudah ada di dalam kitabullah semenjak Rasulullah diutus di padang pasir Mekkah. Baca lebih lanjut

Imam Muslim, Ahli Hadits dari Naisabur


Beliau adalah Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi dinisbatkan kepada leluhurnya an-Naisaburi dinisbatkan kepada tempat tinggalnya. Beliau dilahirkan pada tahun 204 H sebagaimana disebutkan di dalam Khulashat Tahdzib al-Kamal oleh al-Khazraji dan juga menurut Tahdzib at-Tahdzib dan Taqrib at-Tahdzib yang keduanya adalah karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, demikian pula yang disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah.

Ibnu Katsir menceritakan setelah menjelaskan tahun kematiannya yaitu pada tahun 261 H, “Beliau dilahirkan pada tahun yang sama dengan tahun wafatnya as-Syafi’i yaitu pada tahun 204 H. Dan beliau diberi umur 57 tahun, semoga Allah ta’ala merahmatinya.” Namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada tahun 206 H dan wafat dalam usia 55 tahun sebagaimana dinukil oleh Ibnu Khollikan dari kitab Ulama al-Amshar karya Abu Abdillah an-Naisaburi al-Hakim dengan tahun wafat yang sama yaitu tahun 261 H.

Beliau sudah memulai mendengarkan hadits sejak tahun 218 H (berarti usia beliau ketika itu 12 atau 14 tahun, artinya beliau masih remaja) sebagaimana dijelaskan di dalam Tadzkirat al-Hufazh karya adz-Dzahabi. Dan beliau pun mengadakan berbagai perjalanan untuk mencari hadits ke berbagai daerah, di antaranya ke Iraq, Hijaz, Syam, dan Mesir. Beliau meriwayatkan dari banyak guru, di antara sekian banyak gurunya yang paling banyak dia sebutkan riwayat mereka di dalam Kitab Shahihnya ada 10 orang, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam biografi beliau di Tahdzib at-Tahdzib yaitu : Baca lebih lanjut

Perjuangan Mempertahankan Mahkota (bag. 2)


Kami, pelajar yang memakai jilbab, dilarang masuk kelas untuk mengikuti pelajaran kecuali jika kami mau melepas jilbab. Tidak heran, sebab kepala sekolah kami memang seorang Nasrani, yang tentunya tidak kita ragukan lagi permusuhannya kepada kita. Keadaan sekolahku menjadi heboh. Ada pro dan kontra dari para siswa maupun para guru. Para siswa yang pro jilbab dan menaruh simpati kepada kami turut memberikan dukungan moral dan do’a kepada kami. Sedangkan yang kontra, mereka menghina dan melecehkan kami. Kami dianggap sebagai kelompok ortodok, kolot dan suka membuat huru-hara. Berita sekitar pro kontra tentang jilbab di sekolah kami akhirnya meluas. Sehingga sempat menjadi berita nasional dan diliput oleh beberapa media massa nasional pada tahun ’90-an yang lalu. Tapi kami terlanjur melangkah dan tidak sanggup mundur untuk menghentikan langkah, karena kami yakin kebenaran ada pada kami. Dan kami yakin akan pertolongan Alloh yang begitu dekat. Kami lebih takut kepada adzab Alloh daripada ancaman, gertakan dan hinaan dari pihak-pihak yang tidak suka kepada kami.

Beberapa waktu berlalu, kami tetap dalam status yang tidak jelas. Terombang-ambing. Tetapi kami terus memperjuangkan jilbab kami. Kami berusaha mencari dukungan moral ke tempat ustadz-ustadz di Surabaya dan juga di Bangil. Akhirnya, untuk tetap mempertahankan jilbab kami, tidak ada pilihan lain kecuali harus mencari sekolah yang mau menerima kehadiran kami. Iya. Kami harus pindah sekolah.

Ternyata cobaan belum berakhir. Ayahku tidak mengizinkan aku pindah sekolah. Apalagi pindah ke sekolah swasta yang menjadi ‘momok’ bagi keluarga kami selama ini. Ayahku marah sekali kepadaku. Aku menyadari mengapa beliau marah. Aku tetap berusaha berbuat baik kepada beliau. Aku selalu berharap dan berdo’a agar suatu saat ayahku memahami jalanku ini.

Dan… pertolongan Alloh itu dekat sekali. Alhamdulillah, aku bersyukur sekali karena akhirnya ayahku mengizinkanku pindah sekolah meski dengan syarat jatah bulanan tetap seperti ketika di SMA negeri. Padahal biaya SPP maupun iuran yang lain di sekolah swasta lebih banyak. Tapi itu semua tidak merisaukanku. Aku bisa menyiasatinya dengan cara lebih berhemat dalam menggunakan uang belanja, dan dengan memasak sendiri.

Akhirnya aku benar-benar pindah sekolah untuk mempertahankan jilbabku. Dari sekolah favorit ke sekolah swasta. Kecewa? Tidak! Bahkan aku merasa bahagia karena dengan izin Alloh aku mampu mengalahkan hawa nafsu dalam menapaki jalan menuju ridho-Nya.

Hari-hari pertama masuk di sekolah baru ternyata cukup membuatku tersentak kaget. Di depan kelas aku diam termangu melihat pemandangan yang sama sekali tidak kubayangkan sebelumnya. Aku mengira anak laki-laki dan perempuan duduk terpisah. Tapi apa? Hampir setiap bangku diduduki oleh dua anak, yaitu laki-laki dan perempuan. Aku jadi bingung mau duduk di mana. Alhamdulillah, guru yang mengajar saat itu tanggap. Beliau menyuruh anak laki-laki yang duduk di depan sendiri untuk pindah ke belakang, sehingga aku bisa duduk dengan anak perempuan di bangku paling depan. Alhamdulillah, aku selamat dari ujian pertama. Yang aneh juga, walau di sekolah baruku anak-anak perempuan memakai jilbab, tetapi rok mereka masih pendek. Sehingga, kalau ada yang bertanya mana anak yang baru, maka gampang sekali menjawabnya, yaitu yang roknya panjang sekali.

Mulailah aku sibuk menekuni pelajaran-pelajaran baruku yang ternyata membuatku senang sekali karena banyak materi keislamannya.

Kira-kira dua pekan kemudian, aku mendengar berita yang sangat mengejutkan. Ternyata masalah kami belum selesai. Ujian Alloh yang lebih besar datang lagi. Ada empat ikhwan yang dulu menjadi pendukung kami dalam kasus jilbab dipanggil menghadap ke KODIM. Entah siapa yang melapor, kami tidak tahu. Yang pasti, mereka adalah orang-orang yang benci kepada kami dan memberikan laporan sepihak yang sangat merugikan kami. Akibatnya, kami dianggap sebagai pengacau ketertiban dan keamanan. Allohul Musta’an.

Dan tak kuduga, ternyata aku juga mendapat giliran dipanggil ke KODIM. Sejenak terbersit rasa takut dalam diriku. Tetapi aku segera sadar, masih ada Alloh yang menjadi Pelindungku.

Saat itu aku sedang di rumah karena sakit. Surat panggilan itu datang ke rumahku diantar aparat desa. Yang membuatku kaget, surat itu tiba di rumahku sekitar jam 12 malam. Ayahku juga kaget sekali. Beliau menjadi semakin marah kepadaku (Maafkan aku Ayah, yang selalu menyusahkanmu). Yang kusayangkan, mengapa surat itu datang pada waktu tengah malam sehingga membuat ayahku benar-benar kaget.

Esok harinya, dengan penuh keyakinan akan datangnya pertolongan Alloh, aku berangkat ke KODIM sendirian. Aku harus naik bus untuk bisa sampai ke sana. Sampai di sana, aku diterima petugas jaga dan diantar ke ruang intel. Aku merasa bagaikan seorang prajurit yang masuk ke sarang musuh. Aku berdo’a dan terus berdo’a, mengharap limpahan kasih sayang Alloh kepada hamba-Nya yang lemah ini. Kemudian aku dihadapkan kepada petugas intel yang siap dengan berbagai macam pertanyaan. Aku berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu semampuku. Kadang aku juga ditodong dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkanku. Kalau sudah begitu, aku cuma diam. Alhamdulillah, mereka tidak menyakiti diriku sebagaimana yang mereka lakukan terhadap empat ikhwan teman seperjuanganku. Mereka menanyaiku dengan gertakan dan bentakan, tidak sampai menyakitiku. Tapi sekali lagi semua ini akibat dari laporan yang memojokkan kami itu.

Aku merasa waktu berjalan pelan sekali. Interogasi itu terasa sangat panjang dan sangat melelahkan, karena memang pada saat itu aku dalam keadaan sakit. Akhirnya… hampir Maghrib aku baru diperbolehkan pulang. Aku pulang ke rumah dan harus siap menerima kemarahan ayahku lagi. Sejak itu ayahku mendiamkanku. Jarang sekali beliau mau berbicara denganku. Beliau benar-benar kecewa kepadaku.

Ketika aku masuk kembali ke sekolah, setelah sembuh dari sakit, aku dipanggil menghadap ke kepala sekolah. Teman-temanku merasa takut karena beliau terkenal keras dan disiplin. Tapi aku tidak takut, karena aku tidak merasa bersalah. Dan ketika aku sudah menghadap kepada beliau, ternyata masalah yang beliau sampaikan adalah berkenaan dengan pemanggilanku ke KODIM. Ternyata surat panggilan dari KODIM itu sebelumnya sudah diantar ke sekolahku. Karena aku tidak masuk, akhirnya surat itu diantar ke rumahku. Aku banyak dinasihati oleh kepala sekolah dan beliau tidak marah kepadaku.

Kurang lebih dua bulan kemudian, ada berita yang sangat membahagiakan. SK pembolehan siswi memakai jilbab di sekolah turun. Teman-temanku yang tidak ikut pindah meminta agar aku kembali ke sekolah asal. Aku hanya tersenyum. Jelas itu tidak mungkin. Justru sekolah baruku itu merupakan ladang dakwah yang siap kujalankan sehingga aku tidak merasa sedih walau tidak bisa kembali ke sekolah negeri.
Selepas SMA aku tidak ingin kuliah. Aku lebih memilih masuk pondok pesantren untuk memperdalam ilmu agamaku. Hingga aku dinikahi oleh seorang ikhwan yang juga telah siap bersama-sama menjalani rumah tangga islami seperti yang ku idam-idamkan. Kini, jihadku beralih ke rumah suamiku. Empat jundiku merupakan ladang jihad yang tiada henti bagiku. Harapanku, semoga aku tetap istiqomah sampai akhir hayatku bersama suamiku, dan semoga jundi-jundiku menjadi generasi penerus kami dalam mengemban tugas dakwah ini.

Salam untuk semua ikhwan dan akhwat yang terkait dengan kasus jilbab ’90.

Diposting ulang dari http://www.almawaddah.or.id