KARAKTER PENDIDIK SUKSES


Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kami memuji-Nya, mohon pertolongan dan ampunan hanya kepada-Nya. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan kepada seluruh umatnya yang selalu meniti dan berpegang teguh dengan sunnahnya. Amiin.

Amma ba’du :

Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para Rasul. Namun , marilah kita kerahkan segenap kemampuan untuk meraih dan memiliki sifat-sifat itu. Sebab, kita juga menjadi fokus teladan pendidikan bagi generasi baru. Paling tidak sebagai fokus teladan bagi anak-anak kita. Mereka akan senantiasa menyorot kita selaku seorang pendidik dan pembimbing. Kitalah contoh nyata yang mereka saksikan dalam kehidupan. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk memiliki karakter-karakter seorang pendidik yang sukses. Sehingga anak-anak kita menjadi anak yang shalih, bermanfaat untuk dirinya sendiri, orang tua, dan umat. Inilah karakter yang harus kita miliki agar menjadi pendidik yang sukses..

1.      Ikhlas

Rawat dan didiklah anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala. Canangkan niat semata-mata untuk Allah dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasihat, pengawasan maupun hukuman.

Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan merupakan pondasi iman dan merupakan keharusan dalam Islam. Allah ‘Azza wa jalla tidak akan menerima suatu amal perbuatan tanpa keikhlasan. Allah berfirman :

“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5)

Ingatlah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ya benar, kita akan memperoleh hasil kerja kita menurut kadar niat yang terpatri dalam hati kita. Semakin tinggi tingkat ketulusan dan keikhlasan, semakin besar pula balasannya di akhirat dan semakin tinggi pula martabat kita di sisi Allah ‘Azza wa jalla. Niat yang ikhlas, selain mendatangkan keridhaan dan pahala Allah, juga akan meneguhkan hati kita disaat ujian datang. Dan hati kita akan tetap lapang, bagaimanapun hasil yang kita raih setelah usaha dan do’a.

2.      Bertakwa

Inilah sifat terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Yaitu taqwa yang didefinisikan oleh para ulama : “Menjaga agar Allah tidak mendapatimu pada perkara yang Dia larang, dan jangan sampai Allah tidak mendapatimu pada perkara yang Dia perintahkan.”

Yakni mengerjakan segala yang Dia perintahkan dan menjauhi segala yang Dia larang. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh ulama lain :

“Menjaga diri dari adzab Allah dengan mengerjakan amal shalih dan merasa takut kepada-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.”

Yakni menjaga diri dari adzab Allah dengan merasa senantiasa berada di bawah pengawasan-Nya. Dan senantiasa menapaki jalan yang telah Dia gariskan baik saat sendiri maupun di hadapan manusia.

Hiasi diri dengan ketakwaan, sebab pendidik adalah contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan Islam. Jika pendidik tidak menghiasi diri dengan takwa, baik dalam perilaku, ucapan dan pergaulan, maka ini menjadi malapetaka besar bagi si pendidik dan anak didiknya serta menjadi musibah dalam dunia pendidikan. Seperti kata pepatah, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Hiasi diri dengan ketakwaan! Ingatlah janji Allah bahwa Dia akan memudahkan urusan orang yang bertakwa, akan memberi jalan keluar baginya, dan memberi rizki dari arah yang tak ia sangka-sangka.

Allah berfirman :

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-thalaq : 4)

Anak yang shalih adalah rizki. Mudah-mudahan karena ketakwaan kita, Allah berkenan memberikan jalan keluar bagi setiap urusan kita dan memberikan rizki yang baik kepada kita. Amiin.

3.      Berilmu

Sebuah keharusan, bahwa pendidik harus berbekal ilmu yang memadai. Ia harus memiliki pengetahuan tentang konsep-konsep dasar pendidikan dalam Islam. Mengetahui halal haram, prinsip-prinsip etika dalam Islam serta memahami secara global peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah syari’at Islam. Mengapa?

Karena dengan mengetahui semua itu, pendidik akan menjadi seorang alim yang bijak, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, mampu bersikap proporsional dalm memberi materi pendidikan, mendidik anak dengan pokok-pokok persyaratannya. Mendidik dan memperbaiki dengan berpijak  pada dasar-dasar yang kokoh. Mendidik dan mengarahkan anak didik dengan ajaran-ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Memberikan contoh yang baik kepada mereka dengan keteladanan yang agung dari Nabi dan para sahabat beliau.

Sebaliknya, jika pendidik tidak mengetahui semua itu, lebih-lebih tentang konsep dasar pendidikan anak, maka si anak akan dilanda kemelut spiritual, moral, mental dan sosial. Anak akan menjadi manusia yang tidak berharga dan diragukan eksistensinya dalam semua aspek kehidupan.

Sebab, orang yang tidak mempunyai sesuatu, bagaimana ia akan memberikan sesuatu kepad orang lain? Bagaimana mungkin lampu tak berminyak dapat menerangi sekitarnya? Betapa banyak orang tua yang berbuat aniaya terhadap anak-anaknya disebabkan mereka tak paham pokok-pokok pendidikan? Betapa banyak anak yang terjerumus dalam kesengsaraan karena pendidik tidak mengetahui ilmu syari’at?

Tidak diragukan, bahwa tanggungjawab seorang pendidik sangat besar di hadapan Allah Ta’ala. Pada hari dimana harta dan anak-anak tidak dapat menolongnya.

“Dan tahanlah mereka (ditempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya.” (QS. Ash-Shaffat : 24)

Maka seorang pendidik harus membekali diri dengan segala ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan metode-metode pendidikan yang sesuai untuk generasi muslim.

 4.      Bertanggung Jawab

Milikilah rasa tanggung jawab yang besar dalam pendidikan anak, baik aspek keimanan maupun tingkah laku kesehariannya. Dalam pembentukan anak, baik aspek jasmani maupun rohaninya. Rasa tanggung jawab ini akan senantiasa mendorong upaya menyeluruh dalam mengawasi anak dan memperhatikannya, mengarahkan dan mengikutinya, membiasakan dan melatihnya.

Sebaliknya jika rasa tanggung jawab ini pudar, lalu orang tua melalaikan dan mengabaikan tugas pengawasannya, maka secara bertahap anak bisa terjerumus dalam kerusakan. Dan jika kelalaian ini berlangsung terus-menerus maka akan menjadi ancaman yang sangat membahayakan. Anak akan semakin parah kerusakannya, dan teramat sulit untuk memperbaikinya. Dan orang tua akan menyesal, tapi sesal kemudian tiada berguna.

5.      Sabar dan Tabah

Dua sifat ini mutlak dibutuhkan oleh setiap pendidik. Sebab dalam proses pendidikan tentu sangat banyak tantangan dan ujian. Baik tantangan yang berasal dari diri kita sendiri, anak didik, maupun tantangan dari luar lingkungan. Kita harus bisa melaksanakan sebaik-baiknya kewajiban mendidik anak diantara tugas dan tanggung jawab kita yang lainnya. Kita akan dihadapkan kepada berbagai macam karakter anak. Ulah dan tingkah mereka yang sangat menuntut kesabaran dalam menghadapinya. Ditambah lagi dengan faktor luar, baik lingkungan sekitar, kawan bergaul, berbagai macam media dan lain sebagainya. Menghadapi semua tantangan dan ujian ini, kita tidak boleh menanggalkan sifat tabah dan sabar meski hanya sekejap. Jika tidak niscaya ancaman kegagalan terpampang di depan mata kita.

 Dari sinilah kita lihat dengan jelas diantara hikmah pujian Rasulullah kepada Asyaj Abdul Qeis :

 “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang disukai oleh Allah, yaitu ketabahan dan ketelitian.” (HR Muslim dan Tirmidzi dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan dishahihkan oleh Al Abani dalam shahih al Jami’ no. 2136)

 –Bersambung, Insya Allah-

 (Disalin dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” Karya Abu Ihsan Al atsary dan Ummu Ihsan Choiriyah, Penerbit Pustaka Darul Ilmi, dengan sedikit tambahan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s