UMAR BIN ABDUL AZIZ DAN PUTRANYA ABDUL MALIK (1)


Belum lagi tabi’in yang agung amirul mukminin Umar bin Abdil Aziz membersihkan tangannya dari mengebumikan khalifah sebelumnya Sulaiman bin Abdul Malik. Tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruh tanah disekitarnya, lalu beliau berkata: “Ada apa ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah kendaraan-kendaraan khalifah wahai amirul mukminin, telah dipersiapkan agar Anda sudi menaikinya”. Beliau memandang dengan sebelah matanya dan berkata dengan terputus-putus karena lelahnya dan rasa kantuknya setelah semalam tidak tidur: “Apa urusanku dengan kendaraan ini?! Jauhkanlah ia dariku, semoga Allah memberkahi kalian. Dekatkan saja bighal milikku, karena itu cukup bagiku”.

Belum sempat beliau meluruskan posisi punggungnya diatas bighal, tiba-tiba datanglah kepala prajurit yang berjalan mengawal di depan beliau beserta beberapa pasukan yang berjalan berbaris di kanan dan di kiri beliau, sedang di tangan mereka menggenggam tombak yang berkilau.
Khalifah berkata kepada kepala prajurit tersebut: “Aku tidak membutuhkan anda dan juga mereka. Aku hanyalah orang biasa dari kaum muslimin, berjalan sebagaiman meereka berjalan”. Kemudian beliau berjalan dan orang-orang pun berjalan hingga sampai ke masjid, lalu dikumandangkanlah adzan serta seruan “shalat jama’ah, shalat jama’ah..” Lalu manusia memenuhi setiap sisi di dalam masjid. Setelah manusia berkumpul, Umar bin Abdul Aziz naik mimbar dan berkhutbah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nyalalu mengucapkan shalawat atas Nabi kemudian berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah mendapat musibah dengan urusan ini (yaitu diangkatnya beliau sebagai khalifah), tanpa pertimbangan dariku, tanpa aku memintanya, tanpa musyawarah diantara kaum muslimin, maka aku lepaskan bai’at yang melilit leher kalian dariku..lalu silakan kalian memilih pemimpin lagi yang kalian ridhai.”

Maka manusia berteriak dengan satu suara: “Kami memilih Anda wahai amirul mukminin dan kami ridha kepada Anda. Kami serahkan urusan kami dengan harapan keberuntungan dan keberkahan.” Ketika beliau melihat suara-suara mulai tenang dan hati pun mulai tertata, maka beliau bertahmid kepada Allah untuk kesekian kalinya dan mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya.

Beliau menganjurkan manusia untuk selalu bertaqwa kepada Allah, zuhud di dunia, berharap kenikmatan akhirat serta mengingatkan kepada mereka tentang kematian. Hingga sanggup melunakkan hati yang keras dan meneteskan air mata orang yang sadar akan dosanya. Begitulah nasihat yang keluar dari hati akan sampai di hati orang yang mendengarnya.

Beliau mengeraskan suara agar semua orang mendengarnya: “Wahai manusia, barangsiapa yang taat kepada Allah maka wajib untuk ditaati dan barangsiapa yang memerintahkan maksiat maka tiada ketaatan kepadanya siapa pun dia. Wahai manusia, taatilah aku selagi aku mentaati Allah dalam memerintah kalian. Namun jika aku bermaksiat kepada Allah, maka tiada kewajiban sedikitpun bagi kalian untuk mentaatiku.”

Selanjutnya beliau turun dari mimbar dan beranjak menuju rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Beliau ingin sekali istirahat barang sejenak setelah menguras tenaganya karena banyaknya kesibukan pasca wafatnya khalifah sebelumnya. Akan tetapi, belum lagi lurus punggungnya di tempat tidur, tiba-tiba datanglah putra beliau yang bernama Abdul Malik – ketika itu dia berumur 17 tahun – dia berkata:

Abdul Malik : “Apa yang ingin Anda lakukan wahai amirul mukminin?”

Umar bin Abdul Aziz : “Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada lagi tenaga tersisa.”


Abdul Malik : “Apakah Anda akan tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang dizhalimi wahai amirul mukminin?”


Umar bin Abdul Aziz : “Wahai anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman, nanti jika telah datang waktu dhuhur aku akan shalat bersama manusia dan aku akan kembalikan hak orang-orang yang dizhalimi kepada pemiliknya, insya Allah.”


Abdul Malik : “Siapa yang bisa menjamin bahwa Anda masih hidup hingga datang waktu dhuhur wahai amirul mukminin?”


Kata-kata itu telah menggugah semangat Umar, hilanglah rasa kantuknya, kembalilah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah, beliau berkata: “Mendekatlah engkau nak!” Lalu mendekatlah putra beliau kemudian beliau merangkul dan mencium keningnya sembari berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku.” Kemudian beliau bangun dan memerintahkan untuk menyeru kepada manusia: “Barangsiapa yang merasa dizhalimi hendaklah segera melapor.”

-bersambung insya Allah-

Saudaraku, lihatlah dan perhatikanlah kisah tentang amirul mukminin khalifah Umar bin Abdul Aziz dan kisah tentang putra beliau Abdul Malik diatas. Betapa sangat jauh berbeda dengan kondisi umat islam saat ini, dimana sebagian kaum muslimin berlomba-lomba untuk meraih kekuasaan. Dan saat ini yang terjadi di negeri kita, banyak dintara kaum muslimin yang berlomba untuk meraih kursi di DPR, DPD, dan DPRD. Puncaknya hari ini tanggal 9 April 2009, sebuah pesta yang mereka sebut dengan pesta demokrasi (baca pemilu). Sebuah ajang pertarungan untuk meperebutkan kursi di Pemerintahan.
Sungguh kondisi yang memprihatinkan ketika umat islam telah jahil (bodoh) dengan agama islam. Umat islam telah banyak yang melupakan sebuah hadits yang di riwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya:
Dari Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Wahai Abdurrahman! Janganlah kamu meminta jabatan, jika kamu diberi jabatan karena memintanya kamu akan diserahkan kepada jabatan tersebut (tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah, pent.) dan jika kamu diberi jabatan bukan karena meminta, kamu akan ditolong (oleh Allah dalam menjalani kepemimpinan tersebut, pent.).” (HR. Bukhari no. 6622 dan Muslim no. 1652)


Ikhwan dan akhwat saudaraku muslimin dan muslimat, hadits diatas telah menerangkan dengan jelas tentang larangan meminta jabatan/kekuasaan/kepemimpinan. Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar, tidak hanya dihadapan manusia tetapi kelak dihadapan Allah kita akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan kita.
Perhatikanlah perkataan Umar bin Abdul Aziz diatas. Ketika beliau mendapatkan amanah untuk menjadi khalifah, beliau menganggap hal terebut sebagai musibah. Karena beliau mengetahui bahwa menjadi seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar yang tidak setiap orang mampu memikulnya. Padahal beliau tidak meminta kepemimpinan/jabatan/kekuasaan tersebut dan beliau adalah seorang tabi’in, serta orang yang mulia bagi bani Umayyah. Hal itu tentu sangat bertolak belakang dengan kondisi umat islam saat ini. Kekuasaan jadi rebutan, bahkan orang yang tak berilmu dan tak memiliki kompetensi pun ikut berlomba meperebutkan kekuasaan.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaqwa dan berserah diri kepada-Nya. Wallahu ta’ala a’lam bi showab.

Disalin dari buku “Mereka adalah Tabi’in” karya DR Abdurrahman Ra’fat Basya penerbit At Tibyan Solo dengan sedikit tambahan.


Oleh : Abu Hanif As salafy
Artikel : http://www.mondokan.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s